Senin, 18 Januari 2010

Garuda Indonesia Siap Melayani Rute-rute Internasional

Dengan berakhirnya larangan terbang bagi maskapai penerbangan Indonesia salah satunya Garuda Indonesia yang merupakan milik pemerintah Indonesia maka Garuda Indonesia melakukan persiapan untuk melayani rute-rute internasional khususnya negara kincir angin (Amsterdam). Pada rute Jakarta-amsterdam, Garuda Indonesia menargetkan load factor atau rata-rata tingkat isian sebesar 80% sampai 85% yang akan dibuka mulai tanggal 1 juni 2010. Adapun strategi yang dilakukan oleh Garuda Indoensia untuk mencapai target tersebut dengan melakukan kegiatan promosi sejak awal tahun 2010 di benua Eropa. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh Garuda Indonesia berfokus pada ajang Vacancie Bourse di Utrecht, London Travel Mart, dan ITB Berlin Convention. Selain itu, Garuda Indonesia juga mengadakan kerjasama dengan berbagai agen perjalanan wisata besar di Eropa. Agar target dapat tercapai dengan maksimal, Garuda Indonesia dapat mengandalkan situsnya dalam menjaring lebih banyak pelanggan. Tentu saja Garuda Indonesia dapat memudahkan pelanggan luar negeri melalui situsnya untuk melakukan reservasi ke berbagai rute domestik dan internasional yang diterbangi oleh Garuda Indonesia. Akan lebih baik lagi, jika jadwal penerbangan internasional dapat terhubung (connect) dengan penerbangan domestik. Dengan begitu, turis dapat lebih mudah memilih Garuda Indonesia sebagai transportasi udara dalam menuju tempat-tempat wisata yang ada di seluruh nusantara. Disamping itu, Garuda Indonesia secara bertahap melakukan peremajaan armada dengan mendatangkan armada yang lebih modern dan efisien. Kepakkan sayapmu Garuda Indonesia setinggi-tingginya di seluruh dunia… Sumber: www.kontan.co.id

Strategi Bank Sentral Melawan Deflasi

Strategi yang dilakukan oleh bank sentral suatu negara untuk mengangkat perekonomian negaranya dari deflasi yang melaju kencang adalah dengan mempertahankan kebijakan suku bunga yang rendah. Dengan suku bunga yang rendah dapat menyebabkan konsumsi di dalam negeri meningkat. Hal ini disebabkan oleh suku bunga yang rendah membuat tingkat bunga perbankan menjadi rendah dan pada akhirnya masyarakat lebih memilih membelanjakan uangnya daripada menginvestasikannya di perbankan dalam bentuk tabungan atau deposito. Selain itu, strategi mempertahankan kebijakan suku bunga rendah dapat menciptakan stabilitas harga dalam mendorong pemulihan ekonomi suatu negara yang sedang berjalan. Apabila masyarakat suatu negara melakukan tingkat konsumsi yang rendah akan memperburuk terjadinya deflasi. Kebijakan mempertahankan suku bunga yang rendah lebih lama akan mempengaruhi terhadap pelemahan mata uang suatu negara terhadap mata uang asing. Dengan adanya pelemahan mata uang suatu negara akan berdampak positif bagi pelaku ekspor. Pelemahan mata uang suatu negara terhadap mata uang asing akan menaikkan pendapatan dalam bentuk mata uang yang diterima oleh pelaku ekspor. Dengan begitu, pelemahan mata uang dalam negeri akan berpengaruh pada peningkatan total ekspor. Akan tetapi, jika terjadi penguatan mata uang dalam negeri akan berdampak negatif bagi pelaku ekspor. Dimana jumlah pendapatan dalam bentuk mata uang asing yang diterima oleh pelaku ekspor akan berkurang jika ditukarkan ke mata uang dalam negeri. Sebagai contoh: pelaku ekspor menerima pendapatan sebesar $500,000 dari kegiatan ekspornya. Kondisi dalam negeri sedang mengalami pelemahan mata uang sebesar Rp9.500;. Oleh karena itu, total pendapatan yang diterima oleh pelaku ekspor jika ditukar ke mata uang dalam negeri menjadi Rp4.750.000.000;. Apabila mata uang dalam negeri sedang mengalami penguatan sebesar Rp9.000; maka total pendapatan yang diterima oleh pelaku ekspor menjadi Rp4.500.000.000;. Hal ini menunjukkan penurunan pendapatan sebesar Rp250.000.000; jika terjadi penguatan atas mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Sumber: www.kontan.co.id.